Surat-Surat dari Tanah Gayo

8:24 AM



              Sore itu, aku mendapati Ibu sedang menyeduh kopi.
            Mungkin hal itu adalah sesuatu yang lumrah, tapi tidak di sini. Di rumah ini, kopi adalah semacam minuman keras. Haram. Sudah belasan tahun Ibu berhenti mengisi toples kopi yang sengaja Beliau simpan di ujung kabinet paling atas yang tak pernah tergapai oleh tangannya.
            Hari ini, Ibu meneleponku. Beliau minta aku pulang lebih awal dari kantor. Separuh hatiku jumpalitan tak keruan. Sepanjang hidupku, Ibu tidak pernah memintaku pulang. Waktu bocah dulu, Ibu tidak pernah memanggil-manggil namaku seperti ibu-ibu lainnya ketika aku dan teman-temanku keasyikan bermain di tanah lapang hingga adzan maghrib berkumandang. Ibu juga tidak memberitahuku waktu Beliau diserempet motor sepulang dari pasar dulu. Pulang-pulang, kulihat tangan dan kakinya sudah diperban.
            Jika hal-hal demikian tidak menggerakkan Ibu untuk segera menghubungiku, lantas ada apa gerangan sekarang?
            Namun, tak bisa kupungkiri, separuh hatiku justru bersorak. Hari ini, aku punya alasan untuk pulang cepat. Oke, pulang cepat kedengarannya terlalu muluk. Tepat waktu mungkin lebih masuk akal. Ya, tepat waktu. Tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah lima sore, aku harus pulang. Persetan dengan deadline.
            Lima tahun aku mendekam di dalam cubicle itu. Delapan jam sehari, lima hari seminggu. Menggeluti angka demi angka yang tak akan pernah jadi milikku, sementara hatiku merindukan cahaya matahari dan bau tanah basah dan bau rumput yang baru dipangkas. Alih-alih menggunakan sepatu boots berlumpur dan mengangkat cangkul, aku harus duduk di dalam cubicle sepanjang hari, menganalisis keuangan ribuan nasabah. Seharusnya aku tahu dari dulu, IPB tidak hanya dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor, tetapi juga Institut Perbankan Bogor.
            “Kamu tidak apa-apa pulang lebih awal hari ini, Lih?”
            “Nggak apa-apa, Bu.” 
Ibu kini duduk di hadapanku. Cuping hidungnya kembang-kempis ketika aroma kopi menggelitik syaraf-syaraf olfaktorinya. Berbeda sekali denganku, yang sekuat tenaga harus bergelut melawan kepulan-kepulan uap hangat dari secangkir kopi yang Ibu letakkan di depanku. Aku menatap cairan hitam pekat itu, yang saking pekatnya seakan mampu memantulkan bayangan-bayangan masa lalu.
Aku melirik lembaran-lembaran kertas di dekat cangkir kopi Ibu. Berserakan seperti materi ujian anak kuliahan yang belajar dengan sistem kebut semalam. Apakah itu yang membuat Ibu meneleponku?
            “Surat-surat ini datang tadi pagi,” kata Ibu, “dari Aceh.”
Informasi itu menghancurkan semua terkaan yang ada di kepalaku. Seperti kopi, hanya ada satu hal yang menghubungkan rumah ini dengan bagian paling utara dari Pulau Sumatera. Dan sama halnya dengan kopi, ia haram hukumnya. Belasan tahun berlalu, kami berpegang teguh pada hukum itu. Dalam satu senja, mendadak keduanya muncul lagi dalam kehidupan kami. Apa yang terjadi?
Aku hanya bisa menatap lembaran-lembaran surat yang disodorkan Ibu dalam diam. Kubiarkan kertas-kertas itu teronggok di hadapanku. Ibu juga tak mau repot membujukku untuk menerimanya. Kami berdua sudah tahu itu. Meskipun demikian, Ibu juga tak punya niatan untuk menarik kembali surat-surat itu.
            Setelah jeda yang begitu panjang, Ibu akhirnya berkata, “Galih, Bapak sudah tidak ada.”
            Aku menatap Ibu. Aku menatap kedua bola matanya, yang meskipun tidak sejernih dulu, tetapi tak pernah ada air mata di sana. Garis-garis keriput sudah menggurat wajahnya, namun masih kulihat kecantikan dan ketabahan yang tak lekang oleh waktu. Jemarinya tak lagi mulus, penuh bekas luka hasil memasak dan tusukan jarum jahit yang menjadi sumber nafkah kami selama bertahun-tahun.
            Melihatku tak bergeming, Ibu pun berkata lagi, “Ibu mau pergi ke Aceh, Lih.”
            Dengan gusar, aku bangkit dari kursiku. Aku mengambil cangkir kopi di hadapanku itu dan membuangnya ke cucian piring. Seperti inilah yang seharusnya aku dan Ibu lakukan sekarang. Bukannya duduk berhadapan dan mengorek luka-luka masa lalu.
Tidak perlu berkubang dalam genangan hitam pekat itu. Tidak perlu berkabung atas kepergian orang yang sudah lama pergi.
            “Bukankah Bapak memang sudah lama tak ada, Bu?”
            “Bagaimanapun juga, dia bapakmu!”
            Hardikan Ibu memberikan rasa sakit yang lebih hebat daripada dipukuli preman pasar. Melihat air matanya jatuh lebih membikin ngilu ketimbang mengunyah es batu.
            Aku merengkuh badan ringkih yang selama ini berjuang sendiri merawat dan membesarkanku. Tubuh ini dahulu sanggup menggendongku semalaman ketika aku demam. Mengapa kini ia terasa begitu rapuh?
“Ibu mau pergi ke sana, Lih. Ibu mau lihat pusara Bapak. Sekali saja.”
Aku menarik napas panjang. Aroma kopi terasa menusuk-nusuk paru-paruku. Pahit rasanya lidah ini ketika aku akhirnya berkata, “ya, Bu. Kita ke sana.”


            Terhitung sudah dua puluh empat jam berlalu sejak telepon dari Ibu kuterima, dan kini aku sudah berjarak dua ribu kilometer dari cubicle-ku. Selesai mengurus tiket pesawat ke Banda Aceh, aku langsung menghubungi Pak Iskandar, atasanku. Beliau adalah karyawan terbaik yang pernah bekerja di kantor kami. Tidak pernah datang terlambat, tidak pernah pulang cepat. Tidak pernah cuti kecuali hari raya. Saat sakit pun dia tetap masuk.
            Awalnya, aku sangat menghormati Pak Iskandar. Sayangnya, etos kerja yang terlampau keterlaluan itu juga diterapkannya kepada anak-anak buahnya.
            “Kalau kamu sakit, itu salah kamu. Kamu tidak bisa jaga kesehatan. Lagipula, bank ini harus tetap beroperasi dengan atau tanpa kamu. Sehat atau sakit.” Begitu kata-katanya jika ada anak buahnya yang datang menyerahkan surat sakit.
            Dia sih yang sakit, bisa-bisanya bicara seperti itu tanpa beban. Lagipula, siapa juga yang mau tertimpa kemalangan?
            Dan ketika pagi ini aku mengajukan permohonan cuti dadakan, Pak Iskandar pun berkata, “Lho, bukannya kamu sudah nggak punya bapak?”
            Gatal rasanya kepalan ini ingin menghantam apapun yang ada di dekatku, tapi itu hanya sia-sia.
            “Panjang ceritanya, Pak…”
            “Tapi saya butuh kejujuran kamu, Galih. Waktu wawancara dulu seingat saya kamu bilang bapakmu sudah nggak ada.”
            Dengan kesal aku menjawab, “Iya Pak, tapi tiba-tiba saya dapat kabar begini. Makanya saya mau ngecek, bener nggak dia bapak saya?”
            Ketika masuk nanti, dapat surat peringatan saja sudah untung.
            Guncangan yang kian keras mengembalikan kesadaranku ke dalam mobil colt yang kami tumpangi. Aku menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian bingung sendiri. Entah sudah di mana kami berada.
            “Berapa lama lagi sampainya, Bang?” tanyaku pada Bang Syamsir, sang pengemudi mobil colt.
            “Sabarlah, tinggal berapa lingkok[1] laginya,” jawab Bang Syamsir asal.
            Aku mengangguk pasrah. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mempercayakan perjalanan ini sepenuhnya ke tangan Bang Syamsir.
            “Kita pasti sampai, Lih.”
            Tangan Ibu mengusap tanganku dengan lembut, mengalihkan segala kekhawatiranku akan kemampuan Bang Syamsir dalam mengemudikan mobil colt-nya. Kalau boleh jujur, justru Bang Syamsir yang kujadikan pengalih perhatian dari kekhawatiranku yang sebenarnya.
            Satu tangan Ibu yang lain masih memegangi surat-surat itu. Surat-surat itu ditulis oleh seorang perempuan bernama Uswah. Pada lembar pertama dari rangkaian surat yang dikirimkannya itu, ia memperkenalkan diri sebagai seorang perempuan Aceh yang dinikahi oleh Bapak.
            Sampai di situ aku berhenti membaca rangkaian surat-surat itu. Aku tak tahu dari mana Ibu mendapatkan kekuatan hingga Beliau berhasil menyelesaikan surat-surat itu, bahkan berulang-ulang membacanya sepanjang perjalanan kami ini.
            Dalam hati aku justru berharap kami tidak akan pernah sampai ke sana.
            Ayahku seorang tentara. Dia bukan jenderal berbintang, pangkatnya bahkan nyaris tak ada. Namun demikian, aku selalu membanggakannya dalam setiap tugas mengarangku semasa SD dulu. Suatu hari, seperti yang sering dilakukannya setiap beberapa bulan sekali, Bapak pamit kepadaku. Katanya, dia harus menumpas kejahatan. Dia harus membela negara. Dia harus berbakti kepada negeri.
            “Kali ini pergi ke mana, Pak?” tanyaku.
            Bapak membelai kepalaku dengan lembut, lalu menjawab, “Aceh, Nak.”
            Sore itu, kami menghabiskan waktu bersama di ruang tamu. Aku mengerjakan pekerjaan rumahku, sementara Bapak mengawasi. Tak lama, Ibu datang membawa kopi. Kopi buatan Ibu paling nikmat sedunia. Saking nikmatnya, hingga aromanya saja sanggup menghipnotis seisi ruangan. Tahu-tahu tinggal aku sendiri yang ada di ruang tamu.
            Setelah hari itu, Bapak pun pergi. Dan Beliau tak kunjung kembali.
            Akhir tahun 2004, tsunami menghantam Serambi Mekah. Adalah sesuatu yang alamiah bagi manusia untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan-nya justru ketika berada dalam kesusahan. Pada masa itu, begitu banyak doa terucap untuk para korban bencana. Aku pun melanjutkan lagi doa-doaku yang sempat terputus setelah bertahun-tahun tak mendapatkan titik terang, memohon agar Bapak segera pulang. Kalaupun raganya tak mungkin kembali, setidaknya namanya bisa kami ukir di batu nisan.
            Ada peribahasa berbunyi ‘gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’. Mungkin Bapak sebetulnya bukan manusia, karena tak ada sedikitpun jejak yang ditinggalkannya. Berminggu-minggu aku menelusuri daftar korban dan orang hilang pasca-tsunami di berbagai media, hasilnya selalu nihil.
            Bahkan, ketika rekan-rekannya sudah dibebastugaskan seusai penandatanganan kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Indonesia setahun setelah terjadinya tsunami, Bapak belum juga pulang. Beberapa dari antara mereka ternyata masih mengingat aku dan Ibu. Pada suatu sore, tiga orang rekan Bapak datang membawa kabar. Katanya, Bapak tidak akan pernah pulang.
            Segala guncangan yang sedari tadi memancing keluarnya isi perutku akhirnya berhenti juga. Di depan sana, kulihat sebuah rumah satu lantai berdinding hijau muda. Tidak ada pagar yang membatasi rumah itu dari jalan setapak tempat kami berhenti, seakan menyambut kedatangan kami dengan terbuka. Dua perempuan berkerudung keluar dari rumah itu tak lama setelah aku dan Ibu turun dari mobil.
            Aku memicingkan mataku, berusaha menyelidiki dua sosok perempuan tersebut. Menduga-duga yang manakah yang berani-beraninya mengirimkan surat-surat itu setelah semua yang ia lakukan kepada kami. Di saat darahku terasa mendidih dan tanganku begitu keras terkepal, tangan Ibu kembali menyentuhku lembut.
            Dibandingkan aku, Ibu lebih punya hak untuk marah. Tapi itu tidak dilakukannya. Hanya tangannya yang gemetar ketika berusaha menggapai lenganku, mencari penopang. Aku membungkus tangan Ibu yang gemetar dalam gandenganku. Bersama, kami melangkah menghadapi masa lalu yang selama ini tak pernah kami tahu.
"Selamat datang di Tanah Gayo."
Salah satu dari antara dua perempuan berkerudung itu datang menyambut kami. Perempuan itu membuka kedua lengannya ke arah kami dan tanpa sungkan memeluk Ibu dengan hangat. Setelah itu, ia pun mengalihkan tatapannya kepadaku. Aku menangkap adanya sedikit keterkejutan dari wajahnya, yang dalam sekejap tergantikan oleh senyum ramah.
Sambil mengulurkan tangannya kepadaku, perempuan itu berkata, "mirip sekali dengan Mas Rahmat."
Ada ngilu di hatiku ketika kudengar perempuan itu begitu akrab menyebut nama Bapak.
Aku memandangi perempuan itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dari perawakannya, aku mengira-ngira usianya bahkan belum mencapai kepala empat. Air mukanya tegas, namun kedua matanya yang bulat dan berbinar membuatnya terlihat bersahabat.
Seumur hidup baru kali ini aku menyeberangi lautan. Dan baru kali ini pula bertemu muka dengan perempuan Sumatera di tanah asalnya. Salah seorang temanku pernah berkata, dibandingkan perempuan berdarah Jawa yang bersikap manis dan manut, perempuan Sumatera jauh lebih blak-blakan. Hal itu melengkapi kecantikan alamiah mereka yang sudah ada dari sananya, menjadikan perempuan-perempuan Sumatera lebih menantang untuk ditaklukkan.
Muda, cantik, dan menantang. Mungkin itu semua lebih dipilih Bapak daripada harus kembali ke pelukan Ibu yang tak lagi membuat penasaran.
Tanpa menghiraukan tangannya yang kuacuhkan begitu saja, perempuan itu segera mengajak kami masuk ke dalam rumahnya. Sesaat, aku melihat perempuan berkerudung yang satu lagi, yang masih berdiri di tempat yang sama sejak ia keluar dari rumahnya. Ternyata ia masih sangat muda, bahkan lebih muda dariku. Anak perempuan itu mengamati aku dan Ibu dalam diam. Dari matanya yang tak mau lepas dari dua orang tamunya ini, aku melihat ada banyak tanda tanya di sana.
Aku juga punya banyak pertanyaan di kepalaku. Dan kehadirannya memunculkan pertanyaan baru yang begitu menggemparkan: apakah selama ini aku juga punya saudara tiri?
"Silahkan, silahkan," perempuan berkerudung itu berkata, "tamu jauh kami pasti lelah. Mau minum apa?"
Aku dan Ibu bertatapan dengan canggung. Sesungguhnya penyambutan yang terlampau bersahabat ini tak pernah kami duga sebelumnya.
"Apa saja," sahut Ibu.
“Apa saja, asal jangan kopi,” tukasku cepat.
Kedua tuan rumah itu menatapku, bingung. Namun, dengan penuh pengertian, perempuan itupun mengangguk. Setelah berbisik-bisik dengan bahasa yang hanya mereka yang mengerti, anak itu pergi meninggalkan kami bertiga di ruang tamu. Suasana hangat berganti hening.
"Maafkan saya..." tiba-tiba perempuan berkerudung itu berkata. Suaranya bergetar, begitu juga bibirnya. Hilang sudah senyum ramah yang tadi ia suguhkan di depan pintu, runtuh bersama tembok pertahanan yang dibangun selama bertahun-tahun. Seperti air yang keluar dari tanggul yang jebol, kisah masa lalu yang selama ini terputus pun mengalir deras tanpa bisa dibendung.


Awal tahun 2000, situasi politik dan militer di Aceh sedang panas-panasnya. Pemberontak yang berusaha melepaskan diri dari kesatuan negara berusaha memanfaatkan pergolakan pergantian pucuk pimpinan negara yang tengah terjadi. Kala itu, kemunculan pasukan bersenjata di antara pohon-pohon kopi menjadi suatu hal yang biasa disaksikan oleh Uswah.
Sebagai anak satu-satunya pemilik salah satu kebun kopi di Kabupaten Bener Meriah, Uswah tak bisa membantah Abi yang mempersilahkan kebun mereka dijadikan kamp sementara bagi para tentara. Bagaimanapun, hasil kebun ini nantinya jg dijual ke pemerintah. Mereka hanya mengelolanya turun-temurun. Sesungguhnya, sejak jaman Belanda hingga sekarang, mereka tak pernah memiliki tanah yang katanya milik pusaka leluhur.
Lantas, mengapa Abi begitu ribut mencarikannya lelaki terbaik untuk meneruskan pengelolaan kebun ini? Siapapun sama saja, ‘kan? Ujung-ujungnya, kebun ini juga jadi milik pemerintah.
Hari itu, Uswah baru saja mengambil ijazah dari Madrasah. Ia tak langsung pulang ke rumah lantaran gerah mendengar Abi terus meributkan calon-calon suami pilihannya. Ia pun berbelok ke bukit yang selalu jadi tempat perenungannya. Di bawah bukit itu, mengalir sebuah sungai berarus deras. Bunyi arusnya yang menerjang bebatuan selalu bisa membuat hati Uswah tenang. Ia bisa menyendiri seharian di sana.
Sayangnya, hari itu Uswah tidak sendirian. Dari semak-semak, mendadak muncul seorang lelaki berseragam. Matanya berkilat-kilat penuh nafsu. Uswah berusaha lari, tapi laki-laki itu menyergapnya dan membantingnya ke tanah. Uswah berusaha berteriak, tapi laki-laki itu membekap mulutnya. Lalu mencumbunya dengan kasar. Berulang-berulang. Uswah berusaha menggeliat, tapi laki-laki itu menindihnya. Ia memasukinya. Uswah terus berusaha, hingga akhirnya ia sadar, segala usahanya sia-sia. Dirinya kini telah ternoda.
Waktu terasa seperti berhenti bagi Uswah. Segalanya menjadi tak lagi berarti. Apa yang telah direnggut darinya takkan bisa kembali.
“Saat itu, rasanya saya mau mati saja…”
Aku melihat perih yang tak kunjung mereda di mata Bu Uswah, meskipun peristiwa yang barusan ia ceritakan telah lewat belasan tahun yang lalu. Aku melihat hal yang sama pada kedua mata Ibu, setiap kali Beliau menatap toples kopi yang tak kunjung Beliau isi seperti dulu.
“Tapi…” lanjut Bu Uswah, “tiba-tiba seorang perwira muncul dan menolong saya.”
Bu Uswah menceritakan bagaimana kedua lelaki itu saling meninju dan saling menendang seperti dua musuh di medan perang. Lelaki jahanam itu ternyata jauh lebih unggul dibandingkan perwira yang datang menyelamatkannya. Dengan mudahnya, ia berhasil menghempaskan tubuh sang perwira ke tanah. Ditambah lagi, ternyata lelaki jahanam itu mengantongi sebuah pistol di sakunya. Perlahan-lahan, didekatkannya moncong pistol itu ke kepala sang perwira.
“Entah dapat kekuatan dari mana, saya berlari ke arah mereka dan mendorong lelaki jahanam itu hingga jatuh dari bukit,” ujar Bu Uswah, “arus sungai pastilah menghanyutkan jenazahnya.”
Di saat keduanya akhirnya bisa bernafas lega, tiba-tiba suara derap kaki terdengar mendekat. Para penduduk desa menemukan anak perempuan pemilik kebun kopi itu bersama seorang perwira. Auratnya terbuka. Mereka sudah melanggar hukum Allah!
Untuk menyelamatkan diri dari hukuman cambuk, sang perwira pun terpaksa menikahi Uswah yang tak lagi suci. Selamanya, ia harus menanggung dosa yang tak pernah ia lakukan.
“Maafkan saya…” sambil berlinang air mata, Bu Uswah berkata, “saya sama sekali tidak pernah bermaksud merebut Mas Rahmat dari kalian. Saya minta maaf…”
Baik aku maupun Ibu, tak ada satupun yang sanggup berbicara. Lidah ini begitu pahit terasa, seperti dijejali bubuk kopi.
Sebuah pertanyaan menggemparkan yang tadi membayangiku mendadak muncul lagi.
“Anak yang tadi… apakah dia adik saya?”
Bu Uswah terdiam sejenak, kemudian menggeleng. Katanya, “Meuthia memang anakku, tapi dia bukan anak Mas Rahmat.”
Tak lama setelah Bu Uswah mengatakan hal itu, anak perempuan berkerudung itu masuk ke ruang tamu. Pelan-pelan dibawakannya tiga gelas air putih di atas nampan, sementara kedua matanya yang bundar – mata yang sama persis seperti milik ibunya – menatapku lekat-lekat.
“Nak,” tiba-tiba Ibu memanggil anak itu, “kamu tahu di mana pusara bapakmu berada?”
Anak perempuan bernama Meuthia itu menatap ibunya ragu. Bu Uswah, yang kini sudah menyeka habis air matanya, menyunggingkan senyum hangat kepada anaknya itu dan berkata, “Meuthia, tamu jauh kita hendak mengunjungi makam Abi. Kamu bisa antarkan mereka ya, Nak?”
Anak itu pun mengangguk.

Menurut cerita Bu Uswah, Bapak tidak dimakamkan di pemakaman keluarga karena Bapak aslinya memang bukan keturunan keluarga itu. Sebelum meninggal, Bapak minta dikebumikan di atas bukit. Ke sanalah anak perempuan berkerudung itu menuntun aku dan Ibu.
Matahari sudah hampir terbenam ketika kami melakukan perjalanan itu. Meuthia kelihatannya sudah hafal kondisi medan yang akan kami hadapi. Dengan tangkasnya, ia menyusuri kebun kopi keluarganya itu. Di belakangnya, aku berusaha menuntun Ibu yang sudah mulai tertatih-tatih di tengah perjalanan. Berkali-kali aku menawarkan diri untuk menggendong Ibu, namun ia menolak.
“Sebentar lagi juga sampai, Lih.”
Setelah berkali-kali mendengar Ibu mengatakan hal yang sama, akhirnya kami sampai juga ke atas bukit. Seperti cerita Bu Uswah, aku bisa mendengar suara deru air sungai yang mengalir deras di bawah sana. Dari atas bukit itu, aku bisa melihat perkebunan kopi terhampar luas seperti permadani hijau raksasa.
Dan di atas bukit itu, akhirnya aku menemukan sebuah nama yang begitu lama kucari-cari, yang terukir jelas di atas batu nisan.
Aku menatap Ibu. Ada setitik kelegaan di balik air matanya.
“Akhirnya kita sampai juga, Lih.”

            Mataku sulit terpejam. Setelah melakukan perjalanan yang begitu melelahkan hari ini, seharusnya tubuhku tak lagi punya daya. Namun, kejutan demi kejutan yang datang bertubi-tubi membuatku tak bisa berhenti berpikir. Belum lagi aku bisa menerima sosok Bapak yang selama ini hilang dari hidupku, sepucuk surat lain datang memberi kejutan baru.
            Lewat surat itu, Bapak mewariskan perkebunan kopi itu kepadaku.
            “Kami sudah terlalu banyak berutang budi pada Mas Rahmat,” kata Bu Uswah, “lagipula, saya tidak punya anak laki-laki untuk meneruskan perkebunan ini. Meuthia juga masih SMA. Setelah Mas Rahmat pergi, tak ada yang bisa mengurus perkebunan ini.”
            Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku masih terduduk sendiri di ruang tamu, memandangi surat-surat itu. Segalanya jadi terasa begitu memusingkan bagiku.
Semerbak wangi kopi tiba-tiba tercium olehku. Anak perempuan berkerudung itu muncul membawakan secangkir kopi. Matanya yang bundar masih menatapku seperti tadi siang.
            “Sudah dini hari, kok belum tidur?” tanyaku.
            “Abang juga belum tidur.”
            Ada desiran aneh yang kurasa di dada ketika kudengar ia memanggilku ‘abang’.
            “Kopinya wangi sekali,” aku memujinya.
            Dalam cahaya remang-remang, aku melihat rona merah di pipinya. “Mak Wa[2] yang ajari,” katanya sebelum meninggalkanku di ruang tamu.
            Aku melihat bayangan Ibu berlalu di balik pintu. Sejak kuceritakan isi surat wasiat itu, Ibu terus saja diam. Apa yang ingin Ibu sampaikan lewat secangkir kopi ini?
            Belasan tahun aku menolak kopi. Mencium baunya saja aku benci. Hari ini, akhirnya aku menyerah. Minuman pahit itu kutandaskan hingga tinggal ampasnya. Tahu-tahu, mataku sudah basah.
Teringat aku pada suatu senja, ketika Bapak menyuapiku satu-dua sendok kopi dari cangkirnya, dan Beliau berkata, “Kopi yang nikmat itu dibuat dari biji kopi pilihan, Lih. Kalau kamu mau jadi laki-laki yang baik, kamu juga harus menentukan pilihan-pilihan sulit dalam hidupmu.”
Keesokan paginya, sesuai pesan Bapak, aku menentukan pilihanku.
“Halo, Pak Iskandar? Ini saya, Galih, Pak. Saya ingin memberi tahu, sepertinya saya tidak akan kembali.”


[1]  belokan
[2] Bibi


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

You Might Also Like

0 comments