Film Tiga Dara, Sebuah Dokumen Sosial Era '50-an
8:09 AM
Saya percaya, setiap karya seni tidak hanya mengandung nilai estetika yang menjadi daya tarik utamanya, tetapi juga memiliki nilai sosial yang memiliki daya pikat yang tak kalah pentingnya. Film, sebagai karya seni audiovisual, merupakan salah satu media yang efektif menggambarkan kondisi sosial dalam suatu masyarakat dari masa ke masa.
Kemarin sore, saya baru saja menonton film Tiga Dara. Aslinya, film ini keluar pada tahun 1956. Ya, sudah 60 tahun berlalu sejak film ini pertama kali diputar. Dengan berbagai keraguan di kepala, saya berangkat ke Taman Ismail Marzuki untuk menyaksikan film besutan Usmar Ismail tersebut. Sama sekali tidak ada ekspektasi apapun terhadap film ini di benak saya.
Sesampainya di Taman Ismail Marzuki, saya segera membeli tiket. Ternyata, pilihan kursi yang tersisa sudah menipis. Setengah dari kapasitas Studio 4 malam itu sudah terisi oleh orang-orang yang juga ingin menyaksikan hasil restorasi film peraih Piala Citra untuk Kategori Tata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia tahun 1960 itu.
Sebelumnya saya pernah menonton film-film klasik Hollywood dengan tahun keluaran dan genre yang tak terlalu jauh berbeda dari film Tiga Dara, seperti Breakfast at Tiffany's (1961) dan The Sound Of Music (1965). Tetapi, keduanya adalah produksi Hollywood, yang sejak dulu sudah menjadi kiblat perfilman dunia. Mustahil rasanya menyandingkan kedua film itu dengan film lokal di era '50-an.
Sebelumnya saya pernah menonton film-film klasik Hollywood dengan tahun keluaran dan genre yang tak terlalu jauh berbeda dari film Tiga Dara, seperti Breakfast at Tiffany's (1961) dan The Sound Of Music (1965). Tetapi, keduanya adalah produksi Hollywood, yang sejak dulu sudah menjadi kiblat perfilman dunia. Mustahil rasanya menyandingkan kedua film itu dengan film lokal di era '50-an.
Film Tiga Dara berkisah tentang tiga kakak-beradik bernama Nunung (anak sulung), Nana (anak tengah), dan Neni (anak bungsu). Nunung yang sebentar lagi memasuki usia 30, masih belum juga mendapat jodoh. Hal ini membuat sang nenek gelisah. Segala upaya dilakukan oleh sang nenek dan ayahnya untuk menjodohkan Nunung dengan lelaki yang sepadan. Namun, Nunung selalu menolak.
Suatu ketika, sebuah insiden mempertemukan Nunung dengan Toto, dan keduanya pun tertarik satu sama lain. Masalah timbul lantaran Nana juga jatuh hati pada Toto, dan Nunung juga tak mau jujur akan perasaannya sendiri. Cinta segitiga itu juga diramaikan oleh sang adik bungsu, Neni, yang menambah ricuh hubungan percintaan tersebut.
Setelah hampir 2 jam menyaksikan film tersebut, saya harus mengoreksi pernyataan saya sebelumnya. Film Tiga Dara sangat layak disandingkan dengan film-film Hollywood pada masanya! Bahkan, film ini masih sangat berhubungan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.
Mengingat film ini dibuat pada tahun 1956, saya sungguh terkagum-kagum dengan penggambaran sosok perempuan-perempuan yang menjadi sentra di film ini. Terpotret jelas bagaimana kegalauan Nunung, yang pada masa itu dicap sebagai perawan tua, namun tetap tegas pada pilihan hatinya untuk tidak sembarangan memilih lelaki pendamping. Begitu pula sosok Nana, perempuan cantik yang supel dan senang berpesta, namun juga ambisius dan tak mau mengalah dari kakaknya, Nunung. Dan terakhir, favorit saya, si Neni, remaja yang usil dan banyak akal, yang tingkahnya selalu memancing gelak tawa, namun sangat menyayangi kedua kakak perempuannya.
Untuk ukuran tahun '50-an - sekitar satu dekade setelah negara ini merdeka - belum pernah saya membayangkan adanya sosok perempuan yang menolak untuk segera menikah seperti Nunung. Atau yang ambisius dan gila pesta seperti Nana. Atau yang usil dan suka membanyol seperti Neni.
Sebelum menonton film Tiga Dara, sosok perempuan yang ada di benak saya kala itu seharusnya manut, lembut, dan pasrah. Namun, pengembangan karakter ketiga sosok kakak-beradik di atas justru terasa sangat kuat dengan nuansa emansipasi wanita, terutama dalam hal mencari jodoh.
Di samping karakter-karakter perempuan yang begitu kuat, film ini juga mengangkat berbagai isu yang terjadi pada masa itu. Film ini menggambarkan stigma perawan tua, kisah cinta segitiga, perjodohan, ngapel ke rumah pacar, kencan di bioskop, status mahasiswa abadi, bahkan adanya calo tiket di era '50-an. Maka, pantaslah jika film ini disebut sebagai sebuah dokumen sosial dari era '50-an.
Selain merupakan rekaman sejarah yang sangat berharga, film Tiga Dara ini juga membuat kita berkaca dengan kondisi sosial masyarakat saat ini, terutama bagi kaum perempuan. Lewat film ini, Usmar Ismail seakan-akan meninggalkan pesan kepada semua perempuan Indonesia sepanjang masa: ikuti kata hatimu.
Beruntung saya berkesempatan menyaksikan film Tiga Dara yang telah direstorasi ini. Film ini sangat menyenangkan dan layak untuk ditonton. Sangat layak untuk ditonton!
Psst... Tanggal 1 September 2016 nanti, akan ada film 'Ini Kisah Tiga Dara' yang terinspirasi dari film 'Tiga Dara' ini, lho. Sambil menunggu, tonton film lamanya dulu yuk!


0 comments