Supernova : Gelombang

8:12 AM


Judul : Supernova 5 : Gelombang
Pengarang : Dee Lestari
Bahasa : Indonesia
Genre : Fiksi ilmiah
Penerbit : Bentang Pustaka
Tanggal rilis : 17 Oktober 2014
Halaman : 492
ISBN : 9786022910572


Synopsis

Apa rasanya bangun pagi dan tiba-tiba menjadi Albert Einstein? - Dee Lestari (Gelombang, hlm 68)

Albert Einstein yang dimaksud bukanlah ilmuwan pencetus teori relativitas. Tokoh utama kisah ini, Thomas Alfa Edison, juga bukan penemu lampu pijar. Kisah ini bertutur tentang penemuannya akan jati dirinya dan rencana besar yang harus ia laksanakan.

Ada yang berbeda dari Ichon kecil jika dibandingkan dengan bocah-bocah lainnya di Sianjur Mula-Mula. Sejak dilakukannya upacara pemanggilan roh leluhur di desanya, bakat istimewa Ichon mulai muncul dan menarik perhatian para tetua adat. Sesuatu menggeliat dalam alam mimpinya, sehingga tidur menjadi sesuatu yang berbahaya dan mengancam jiwanya.

Perpindahannya ke Jakarta, dan disusul migrasi gelapnya ke Amerika Serikat, tidak mengubah ketakutannya terhadap mimpi. Alih-alih, ia mengatur pola tidurnya sedemikian rupa sehingga ia berhasil melewati sebelas tahun kehidupannya tanpa mimpi. Ichon, bocah kecil dari Sianjur Mula-Mula, kini telah bertransformasi menjadi Alfa Sagala, anak emas Wall Street.

Namun, sesuatu dari alam mimpinya tidak membiarkan Alfa terlena lebih lama. Pertemuannya dengan wanita bernama Ishtar menyeretnya kembali ke dalam pusaran mimpi yang selama ini dihindarinya. Melalui serangkaian percobaan dengan mimpinya, Alfa berusaha menguak rahasia di balik alam mimpinya. Perjalanannya ke Tibet mengantarkan Alfa pada sebagian jawaban dari pencariannya, dan menjadi titik awal baru dari pencarian selanjutnya...

Personal Taste - Spoiler Alerts!


This book is really a page-turner! Dengan ketebalan 492 halaman, buku ini habis saya lalap hanya dalam waktu 2 malam saja. Dee Lestari terbukti sudah semakin matang dalam meramu kisah yang ia sajikan untuk para pembacanya. Penuturannya mengalir begitu saja, membuat saya tenggelam dalam kisahnya. Begitu sadar... lho, sudah sampai halaman segini? Hahaha...

Perkembangan karakter-karakter dalam buku ini juga mengalir tanpa paksaan. Proses transformasi Ichon kecil yang lugu menjadi Alfa Sagala yang cocky dan ambisius diuraikan dengan sangat baik melalui serangkaian peristiwa-peristiwa kecil, mulai dari alasan ayahnya memilihkan nama-nama ilmuwan ternama untuk anak-anaknya, pertemuan Ichon kecil dengan Frank Sinaga di atas kapal yang membawanya ke Jakarta, usahanya bertahan hidup di Amerika Serikat sebagai seorang imigran gelap, hingga akhirnya ia lolos ke Cornell University dan bekerja di Wall Street.

Karakter lain pun tidak hanya dijadikan sekadar tempelan penghias cerita. Nicky Evans, misalnya, merupakan karakter yang berhasil merebut perhatian saya dan membuat saya penasaran akan kelanjutan kisahnya. Dibandingkan serial Supernova lainnya, Gelombang adalah seri yang paling banyak 'bintang tamu'-nya. Hal itu menjadi poin plus bagi pembaca yang sudah mengikuti seri-seri sebelumnya, sekaligus menjadi ajang melepas rindu dengan karakter-karakter tersebut. Jika sasarannya adalah pembaca baru, hal ini juga menjadi poin plus untuk marketing serial Supernova, karena niscaya mereka akan tertarik untuk membaca seri-seri lainnya untuk menggali karakter-karakter tersebut lebih dalam lagi.

Dua poin plus lainnya dari buku ini sesungguhnya saling bertolak belakang satu sama lain. Poin pertama: riset. Sejak permulaan cerita, Dee Lestari sudah menunjukkan kesungguhannya mengerjakan 'pe-er'-nya dengan memaparkan kebudayaan suku Batak dengan cara yang mudah dicerna sehingga dapat dinikmati pembaca. Ia juga memasukkan hasil risetnya mengenai lucid dream, dream yoga, hingga istilah-istilah medis - yang membuat saya setuju dengan Alfa, that's... a lot of consonants - yang justru menunjang jalannya cerita.

Di balik riset-riset serius tersebut, Dee Lestari berhasil menyisipkan selera humornya yang tak terduga. Jika pembaca jeli, ada banyak punch line yang bertebaran dalam buku ini, mostly berasal dari celetukan Alfa sendiri. Namun, tak ada kelakar yang bisa mengalahkan cerita di balik evolusi nama-nama ilmuwan ternama menjadi Uton, Eten, dan Ichon. Dan, tentunya, bagaimana Dee Lestari membuat para pembacanya lancar berlogat Batak lewat dialog-dialog para tokohnya di bab-bab awal buku ini adalah cara yang efektif menciptakan humor. Sebagai BTL, alias Batak Tembak Langsung, saya mesem-mesem terus sepanjang membaca dialog si Ichon dan sanak keluarganya :)

Di luar poin-poin di atas, saya merasa alur dari seri Gelombang ini berjalan agak lambat. Namun, begitu mulai mendekati akhir, alur langsung dibuat serbacepat. Mungkin alurnya sengaja dibuat seperti itu karena buku ini lebih banyak mengisahkan kehidupan Alfa sendiri dan belum masuk ke babak Supernova yang sesungguhnya. Sebelum saya membaca buku ini, saya sudah lebih dulu mengintip mention sesama pembaca di Twitter yang geregetan dengan ending buku ini, yang saya nilai punya poin plus dan minus. Poin plusnya lebih condong pada selera saya yang lebih senang dengan akhir cerita yang dibiarkan menggantung, sementara poin minusnya adalah... saya harus rela bersabar sampai seri Supernova selanjutnya diterbitkan :'(

Rate

Overall, I love this book! I'd like to give 4.90 of 5.00 - suka-suka ya, kan rating-nya saya yang bikin sendiri hehehe...



Quotes

"When life gives you lemon, what would you do, Fred?"
"Bite it like a man."
- page 240


You Might Also Like

0 comments