Welcome to Belitung, #WonderfulEclipse

6:47 AM

Belitung sudah lama masuk ke dalam daftar keinginan saya untuk dikunjungi.

Semua itu bermula pada tahun 2009, seusai menyaksikan film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata. Film besutan Riri Riza dan Mira Lesmana yang berhasil menyabet Piala Citra 2009 sebagai Film Terbaik kala itu menjadi satu-satunya jendela yang menghubungkan saya dengan tempat ini.

Film Laskar Pelangi tidak hanya menyajikan pemandangan lanskap Pulau Belitung yang luar biasa indah, tetapi juga menggambarkan kondisi sosial masyarakat Belitung yang berbeda dengan yang selama ini saya lihat di ibukota. Sungguh aneh. Seumur hidup saya berada di Indonesia, baru kali itu saya mengetahui ada satu tempat di pelosok negeri ini yang begitu indah sekaligus asing.

Sepulangnya dari bioskop, saya langsung bertekad suatu hari nanti akan berkunjung ke sana.

Film Laskar Pelangi yang memperkenalkan Belitung kepada saya (sumber : satriadharma.wordpress.com)

Tahun demi tahun berlalu, tekad itu masih menggantung di angan-angan. Belitung sayup-sayup memanggil dari seberang lautan. Namun, kesempatan untuk berkunjung selalu terhalang kesibukan. Kucuran dana pun masih mengalir dari orang tua. Saya pun terpaksa harus menunggu saat yang tepat. Selama itu, saya harus puas menikmati pesona Belitung lewat foto-foto dan cerita-cerita di berbagai media tanpa bisa mengalaminya sendiri.

Akhir 2015, saya membaca satu berita mengenai Gerhana Matahari Total yang akan melintasi Indonesia pada bulan Maret 2016. Belitung menjadi salah satu tempat yang mengalami peristiwa alam yang sangat langka ini. Konon, Gerhana Matahari Total baru akan terjadi lagi 350 tahun mendatang! Jujur, saat itu saya sama sekali tidak terlalu antusias, mengingat saya sudah memasuki dunia kerja yang sarat cuti. Yang ada di benak saya hanyalah tugas-tugas kantor yang menumpuk dan rapat sana-sini yang begitu menyita waktu, energi, dan perhatian saya.

Suatu hari di bulan Februari, ayah saya datang kepada saya. Tahun ini, Beliau akan pensiun. Mungkin itulah yang mendorong Beliau bercerita banyak tentang dunia kerja kepada saya hari itu. Bagaimana ia menghabiskan puluhan tahun bekerja, hingga cutinya tak kunjung habis hingga di tahun terakhirnya. Bagaimana ia menabung sedikit demi sedikit, namun hartanya toh habis-habis juga untuk pengobatan penyakitnya. Banyak kesempatan yang datang, tapi tak pernah diambil karena mengutamakan pekerjaan, yang ujung-ujungnya pensiun juga.

Apa yang disampaikan ayah saya itu menjadi satu cambukan bagi diri saya. Satu pertanyaan besar menghantui saya: sebenarnya saya kerja buat apa ya?

Saat itulah, saya tiba-tiba teringat akan berita Gerhana Matahari Total yang pernah saya baca dulu. Katanya, kesempatan belum tentu datang dua kali. Saya tidak mau menyimpan penyesalan di hari tua nanti. Seperti kesurupan, saya langsung ajak ayah saya pergi ke Belitung.

Harus sekarang! Kalau tidak, kapan lagi?

Maka, kami pun, dua orang ayah dan anak gila kerja yang tidak pernah berpetualang, nekad melakukan perjalanan ke Belitung. Kami membagi tugas sama rata. Saya mencari tiket, ayah saya mencari paket tur. Waktu hanya kurang dari sebulan. Dana terbatas, cuti pun belum diajukan. Kami cukup ketar-ketir. Kurang dari seminggu, tiket dan paket tur yang ramah di kantung bisa kami dapatkan. Kami pun meninggalkan semua kesibukan sekaligus kepenatan kami di ibukota dan berangkat ke negeri Laskar Pelangi.

Dikarenakan pembelian tiket yang dilakukan pada waktu yang mepet, kami tidak berhasil mendapatkan tiket sekali perjalanan. Perjalanan pertama kami menggunakan maskapai Lion Air menuju Pangkal Pinang, Bangka, kemudian dilanjutkan dengan maskapai Wings Air menuju Tanjung Pandan, Belitung. Kebetulan saya mendapat tempat duduk di samping jendela, sehingga saya bisa leluasa memotret pemandangan di luar. Penerbangan menuju Pangkal Pinang hampir seluruhnya berwarna biru!

Warna biru sejauh mata memandang selama perjalanan menuju Bangka
Setelah satu jam berada di angkasa, pesawat kami akhirnya mendarat di Bandar Udara Depati Amir yang berada di Pangkal Pinang, Bangka. Sayang, karena kami hanya transit beberapa waktu, kami tidak sempat berjalan-jalan di Pulau Bangka.

Perjalanan kami pun berlanjut lagi. Kali ini, kami mempercayakan maskapai Wings Air untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan, Belitung. Waktu tempuh antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung jika menggunakan pesawat sekitar 35 menit saja. Namun, 35 menit itu terasa lebih lama dari seharusnya karena pesawat berukuran kecil yang kami naiki itu beberapa kali bergoyang, dan itu cukup membuat saya senam jantung sepanjang perjalanan. Sebetulnya, ada opsi lain menuju Belitung dari pulau tetangganya, Bangka, yaitu naik kapal cepat. Namun, waktu tempuhnya cukup panjang, yaitu sekitar 4 jam. Biayanya pun tidak terlalu jauh berbeda dengan harga tiket pesawat.

Tapi, begitu saya melihat hamparan pulau-pulau yang timbul di antara samudera yang luas di bawah sana, semua ketakutan saya langsung sirna. Warna biru berpadu hijau langsung menyegarkan pandangan saya. Baru kali ini saya benar-benar menyaksikan apa yang orang bilang 'zamrud Khatulistiwa'.

Foto aerial Pulau Belitung. Pulau ini bentuknya seperti umbi :)
Puji Tuhan, akhirnya kami tiba di Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Pihak tur kami pun sudah mempersiapkan seseorang untuk menjemput kami di bandara, Bang Hairil namanya. Lewat Bang Hairil inilah saya tahu tentang kapal cepat dari Bangka ke Belitung yang saat ini sudah mulai ditinggalkan orang lantaran adanya pesawat. Katanya, dua puluh tahun yang lalu, pesawat hanya datang sebulan sekali ke pulau ini. Sekarang, pesawat datang setiap hari pun masih belum cukup.

Sepanjang perjalanan menuju hostel, Bang Hairil bercerita bahwa panjang Pulau Belitung dari ujung barat hingga ujung timur bisa mencapai sekitar 110 kilometer. Satu hari perjalanan saja cukup untuk mengitari pulau ini karena bebas macet, katanya. Memang benar, selama perjalanan itu mobil kami tidak pernah berhenti selain karena lampu merah. Selain itu, jalan pun sudah diaspal semua. Perbaikan infrastruktur pulau tersebut sudah dimulai sejak 3-4 tahun yang lalu, berbarengan dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke BelitungBang Hairil pun mengakui, pariwisata di pulau tempatnya tinggal itu maju pesat sejak dirilisnya film Laskar Pelangi.

Dalam 30 menit, kami pun tiba juga di hostel bernama WW House. Hostel ini menjadi rumah bagi saya dan ayah saya selama berada di Belitung. Kami disambut dengan baik oleh Bang Ito, yang ternyata dulunya pernah tinggal selama 15 tahun di Jakarta.

Tidak lama kemudian, pihak tur datang menjemput kami. Bersama kurang lebih 25 peserta tur lainnya, kami berangkat ke Pantai Tanjung Pendam untuk melihat matahari terbenam.

Begitu sampai di Pantai Tanjung Pendam, saya langsung berlari kegirangan. Pemandangannya keren banget!

sunset terakhir sebelum Gerhana Matahari Total 2016 - Pantai Tanjung Pendam

Di sinilah saya baru benar-benar menyadari kalau saya akhirnya sampai di Belitung. Saya merinding. Saya melihat ayah saya, yang sama hebohnya dengan saya saat melihat matahari terbenam di pantai itu. Teringat cerita Beliau tentang kesempatan-kesempatan yang selama ini lepas dari genggamannya, hingga menimbulkan banyak penyesalan. Termasuk kesempatan berkeliling Indonesia.

Ketika melihat matahari yang mulai terbenam, saya menyadari bahwa kami berdua ternyata sudah begitu jauh dari rumah. Sudah begitu jauh dari rutinitas yang selama ini menjerat kami hari demi hari, yang menjauhkan kami dari berbagai kesempatan untuk lebih menikmati hidup.

Katanya, kesempatan hanya datang satu kali. Kalaupun datang dua kali, itu adalah anugerah.
Gerhana Matahari Total ini pun tidak akan datang dua kali. Oleh karena itu, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!

Welcome to Belitung, #WonderfulEclipse!

Siap menyambut Gerhana Matahari Total 2016!





You Might Also Like

0 comments