My Kinda Sunday: Dee's Coaching Clinic Jakarta
7:36 AMJakarta, Minggu (5/4/2015) - Setengah tidak percaya - dan sambil terkantuk-kantuk juga - pagi itu saya berangkat ke Perpustakaan Kantor Pusat Bank Indonesia. Bolak-balik saya mengecek e-mail dari Bentang Pustaka, isi e-mailnya masih sama. Review saya tentang Supernova: Gelombang, tulisan pertama di blog saya ini, berhasil membawa saya menjadi salah satu dari 20 reviewer terbaik yang berhak mengikuti Dee's Coaching Clinic Jakarta!
![]() |
| Can you spot me among these great authors-to-be? |
Sebelum berangkat, saya sama sekali tidak punya bayangan tentang acara ini. Saya pikir, ketemu Dewi 'Dee' Lestari-nya saja saya sudah senang. Ternyata oh ternyata... saya mendapat segudang ilmu baru tentang dunia tulis-menulis dari Dewi Lestari.
Ritual Penulisan
Kadang, kita punya segudang ide yang berseliweran di kepala. Tapi, giliran mau dibuat jadi tulisan, malah bingung harus mulai dari mana. Nah, untuk mentransformasikan ide-ide di kepala itu menjadi suatu tulisan, Dewi Lestari punya 2 ritual khusus untuk memulai langkah penulisan:
1. Konkritkan yang abstrak
Menurut Dewi Lestari, ide yang masih ada di awang-awang itu abstrak. Kita biasanya merasa nyaman dengan hal-hal yang abstrak, yang belum ada bentuknya. Namun, begitu kita memutuskan untuk menjadikannya suatu tulisan, ide itu berubah menjadi sesuatu yang tidak aman. Rasa tidak aman inilah yang membuat kita cenderung membiarkan ide itu bebas berkeliaran di alam khayalan kita. But hey... Kamu mau jadi penulis nggak? Makanya, mulai menulis!Rasa tidak aman itu pasti ada setiap kali menulis. Oleh karena itu, menulislah untuk diri sendiri dulu. Buat suatu cerita yang memang kita ingin baca, niscaya kita akan merasa nyaman dengan tulisan kita sendiri.
Setelah ide yang abstrak dibuat menjadi konkrit, lantas bagaimana kalau ternyata kita malah kebanjiran ide?
Di Dee's Coaching Clinic ini, Dewi Lestari menjelaskan bagaimana ia menganggap bahwa ide adalah partner kerja. Ia mengibaratkan ada 'dunia ide' yang berdampingan dengan dunia kita. 'Dunia ide' ini dihuni oleh ide-ide yang tak terhingga jumlahnya, dan ide-ide yang luar biasa banyak itu mencari 'jodoh' ke dunia kita. Masalahnya, perjodohan antara ide dan manusia ini gampang-gampang susah. Makanya, kalau ada ide yang muncul tidak tepat pada waktunya, atau ide tersebut ternyata kurang sesuai dengan jalan cerita, jangan langsung dibuang. Nanti idenya ngambek dan tidak datang-datang lagi. Di sisi lain, kita juga jangan mau jadi 'budak'-nya ide. Misalnya, saat kita mau tidur, idenya justru muncul dan kita terpaksa harus meladeni ide tersebut.
Untuk menyiasati hal-hal seperti itu, penting sekali membuat celengan ide. Celengan ide ini bisa berbentuk notes, catatan kecil, dokumen, atau apapun yang bisa menampung ide-ide yang muncul pada waktu yang tak tepat atau pada saat kita kebanyakan ide. Dari paparan Dewi Lestari tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa bukan kita yang mencari ide, tapi kita yang dicari ide. Malah, menurut saya, kita dan ide sama-sama saling mencari satu sama lain. Dan itulah mengapa sebuah karya disebut 'anak jiwa'.
2. Kuantifikasikan yang kualitatif
Setelah ide yang abstrak dibuat ke dalam bentuk tulisan yang konkrit, sekarang waktunya untuk membicarakan hal-hal yang bersifat teknis: Mau buat tulisan sepanjang apa? Kapan selesainya?
Menurut Dewi Lestari, sebelum membuat suatu cerita, kita harus punya bayangan cerita yang akan kita buat itu sepanjang apa. Dengan demikian, kita jadi punya target dan cerita pun tidak lari ke mana-mana lantaran terlampau panjang atau justru terlalu irit. Sarannya lagi, sering-seringlah survey ke toko buku supaya bisa lebih mudah membayangkan sosok buku yang mau kita buat setebal apa. Sebagai pembanding, novel setebal 250 halaman umumnya terdiri dari 45.000 kata, sementara novel setebal 500 halaman umumnya terdiri dari 80.000 kata.
Begitu punya target halaman yang akan ditulis, sekarang waktunya membuat target untuk waktu penyelesaiannya. Menurut Dewi Lestari, deadline is an important tool. Kebanyakan orang pasti tidak suka akan adanya deadline, tapi Dewi Lestari justru menyarankan agar deadline penulisan dibuat se-menekan mungkin! Oleh karena itu, penting sekali untuk membuat jadwal menulis.
Sebagai contoh, target halaman kita adalah 250 halaman. Kemudian, kita punya deadline 1 tahun, di mana sekitar 115 hari kita membuat jadwal libur. Artinya, kita punya waktu sekitar 250 hari untuk menulis. Berdasarkan hitung-hitungan matematis a la Dewi Lestari, dengan jadwal menulis seperti di atas, kita hanya perlu menulis sebanyak 1 halaman per hari! Kelihatannya mudah ya, padahal nyatanya... - ini komennya Dewi Lestari sendiri, lho...
Sesuai dengan saran Dewi Lestari, pembuatan jadwal menulis itu penting. Kita bisa pilih waktu sekitar 2-3 jam setiap hari, terserah kita kapan waktu yang tepat, bisa subuh, pagi, siang, sore, atau malam. Dengan jadwal menulis yang terpola, kita jadi terpacu untuk lebih disiplin dalam menulis. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kita juga perlu punya waktu libur dari kegiatan tulis-menulis supaya otak tidak ngebul. Kalau kata Dewi Lestari, it's okay to take time to rest.
Setelah kita sudah punya ukuran, baik ukuran tulisan yang mau kita buat maupun ukuran waktu yang kita butuhkan untuk menulisnya. Masalahnya, apakah kita sendiri patuh dengan target-target yang sudah kita buat sendiri? Dewi Lestari ternyata punya kiat tersendiri untuk mengatasi masalah semacam ini: buat kontrak sama suami tercinta! Saya sempat tertawa saat mendengar celetukan Jenny Jusuf yang kebetulan hadir dan duduk di belakang saya, "Berarti, harus cari suami dulu dong?" Intinya sih, kita bisa buat kontrak dengan siapa saja. Kita bisa cerita ke teman-teman dekat, bikin pengumuman di media sosial, pokoknya buat banyak orang aware kalau kita mau menulis dan kasih tahu deadline-nya kapan. Kalau kata Dewi Lestari, ditanyain itu penting!
![]() |
| Bintang tamunya paket komplit: Trinity (@TrinityTraveler), Alexander Thian (@aMrazing), dan Jenny Jusuf (@JennyJusuf) |
Pemetaan Cerita
Hal berikutnya yang perlu kita siapkan saat membuat suatu tulisan adalah pemetaan cerita. Kalau jaman SD dulu, mungkin kita lebih terbiasa mendengar istilah kerangka cerita, alur, ataupun plot. Saya sepaham dengan Dewi Lestari untuk menggunakan istilah peta cerita. Kenapa? Karena saya mengumpamakan cerita sebagai suatu perjalanan, di mana akhir cerita menjadi tujuan akhir perjalanan saya. Supaya sampai dengan selamat dan tanpa harus tersesat dan berputar-putar ke berbagai arah, kita butuh peta cerita. Selain itu, bentuk mind map sendiri sudah merepresentasikan bagaimana cara otak kita berpikir: bercabang-cabang.Peta cerita ini penting terutama jika kita mau menulis cerita yang cukup panjang. Dengan panduan peta cerita, kita bisa menentukan titik-titik transit kita untuk memulai babak baru untuk menyelesaikan cerita kita. Secara umum, peta cerita terdiri dari 3 babak:
1. Thesis
Babak pertama disebut thesis. Bagian ini merupakan status quo, di mana kita memaparkan dunia sebelum terjadinya perubahan.2. Anti-thesis
Babak kedua atau anti-thesis merupakan babak di mana keadaan justru berlawanan dengan babak pertama (thesis). Babak anti-thesis ini biasanya dibagi 2, yaitu bagian 2A dan bagian 2B. Di bagian 2A, penulis bisa memunculkan suatu katalis untuk memicu terjadinya perubahan cerita. Setelah itu, barulah terjadi perubahan di bagian 2B.3. Sintesis
Bagian ketiga disebut sintesis, karena di bagian inilah penulis harus menggabungkan konsekuensi dari bagian thesis dan anti-thesis.Untuk mempermudah pembuatan peta cerita, Dewi Lestari memberikan contoh mind map yang sangat aplikatif sesuai dengan pembagian drama 3 babak yang ia jelaskan.
![]() |
| Mind map drama 3 babak buatan Dewi Lestari (courtesy of Dewi Lestari's instagram) |
Dari mind map tersebut, terdapat 4 bagian yang bisa diisi rekam adegan cerita. Hal ini juga sangat membantu penulis apabila penulis menemui kebuntuan dan harus merombak cerita karena alurnya tidak sesuai. Dengan mind map ini, penulis tidak perlu susah-susah membaca ulang dan mereka-reka bagian mana yang harus dihapus dan dipertahankan. Penulis cukup melihat rekam adegan dari babak-babak tersebut dan memindahkan atau menghapuskannya saja.
Terkadang, penulis juga merasa sayang jika harus menghapus satu-dua adegan yang ia rasa bagus, namun tidak sesuai dengan jalannya cerita. Sesuai penjelasan Dewi Lestari, everything is story-driven dan sebagai penulis kita tidak boleh menunjukkan ego penulis dengan memaksakan ide-ide yang justru bisa merusak cerita karena tidak sesuai. Do not hesitate to kill your darlings!
Tokoh dan Penokohan
Sesuai dengan penuturan Dewi Lestari, tokoh adalah media untuk menjalankan cerita. Jadi, bukan tokoh yang membawa cerita, tapi justru cerita yang menyetir perjalanan tokoh. Seperti apa sih caranya membuat tokoh yang mudah disukai pembaca? Menurut Dewi Lestari, membuat tokoh yang mudah disukai itu rumusnya ada 2: kamu ingin menjadi seperti dia dan dia ternyata seperti saya. Artinya, tokoh yang kita ciptakan harus punya keistimewaan yang membuat kita merasa ingin menjadi seperti dia karena keistimewaannya itu. Namun, kita juga perlu menunjukkan kelemahan tokoh tersebut supaya tokoh yang kita ciptakan terasa manusiawi. Selain itu, tokoh yang mudah disukai pembaca harus memiliki kualitas simpati, misalnya punya sifat rela berkorban yang bisa menarik simpati pembaca.Dewi Lestari juga menjelaskan bahwa konsistensi karakter itu bisa ditetapkan sejak awal cerita, namun tidak ada salahnya juga jika kita membiarkannya berkembang sesuai dengan jalannya cerita. Yang penting, kita sebagai penulis harus punya keyakinan dan percaya diri saat menulis cerita.
Keyakinan itu bisa dengan mudah kita dapatkan dengan bantuan riset. Riset bisa dilakukan dalam bentuk riset pustaka atau film, internet, wawancara, atau datang langsung ke tempat yang menjadi sumber riset. Supaya lebih meyakinkan lagi, kita bisa mencampurkan fiksi dengan fakta yang ada. Atau, fakta disuarakan oleh tokoh dalam dialog sehingga terasa lebih hidup dan tidak kaku.
Berbicara tentang dialog, Dewi Lestari menyebutkan bahwa dialog sebetulnya adalah sebuah konflik. Makanya, kita tidak boleh membuat dialog yang datar-datar saja, tetapi harus menunjukkan hubungan timbal-balik atau sebab-akibat. Selain itu, dialog juga dapat berfungsi untuk menonjolkan karakteristik tokoh. Setiap tokoh pasti memiliki karakteristik berbicara yang berbeda pula. Saran dari Dewi Lestari, saat membaca draft pertama, bacalah dialog tiap tokoh KERAS-KERAS. Dengan membaca lantang, kita bisa mendengar bagaimana dialog itu disuarakan. When one character sounds the same to others, then you got problems!
Berkebalikan dengan dialog yang cenderung mempercepat alur cerita, deskripsi tokoh justru memperlambat cerita. Deskripsi inilah yang dapat digunakan untuk mengisi cerita. Saat menddeskripsikan sesuatu dalam penulisan cerita sebaiknya dicicil pelan-pelan dan cukup hanya sampai menimbulkan sugesti bagi pembaca, jangan terlalu gamblang. Namun, saat membuat deskripsi, hindari penggunaan kata-kata yang terlalu puitis. Sesuai dengan kata-kata Dewi Lestari, deskripsi itu ibarat bumbu yang tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih, just right!
![]() |
| Sudah ketemu Dewi Lestari, dapat bingkisan pula. I was a happy reader! |
Setelah mengikuti Dee's Coaching Clinic ini, saya betul-betul tercerahkan sekali dalam memahami proses tulis-menulis. Namun, semua ini tidak akan ada gunanya jika saya tidak mencoba mengaplikasikan ilmu yang saya dapat ini.
Dewi Lestari sempat bercerita kenapa ia bisa nekad menerbitkan sendiri buku pertamanya, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Ternyata, sejak kelas 5 SD, ia ingin sekali melihat bukunya terpajang di toko buku. Akhirnya, di ulang tahunnya yang ke-25, ia pun berhasil menerbitkan buku pertamanya itu - yang awalnya masih berupa draft kasar yang punya banyak kesalahan di sana-sini. Namun, seiring berjalannya waktu, Dewi Lestari mulai memperbaiki tulisan-tulisannya hingga menjadi penulis best-seller seperti saat ini. Meskipun demikian, ia belum punya niat untuk berhenti menulis.
"Saya mau baca buku yang ceritanya 'begini', tapi nggak ketemu. Ya sudah, saya tulis saja sendiri. Saya menulis untuk diri saya sendiri dulu. Sorry-sorry saja ya buat pembaca-pembaca saya," katanya setengah bercanda.
![]() |
| On the left, started her writing career at 25. On the right, hopefully will start her writing career at 25 as well. |
Jadi?







0 comments