Secuplik tentang Hari Kartini

5:46 AM



Apa yang muncul di pikiran kalian begitu mendengar Hari Kartini?

Jujur saja, hal pertama yang muncul di benak saya begitu Hari Kartini mendekat adalah... 'kira-kira bakal ada diskon apa yang diselenggarakan hari itu?'
Dan benar saja, begitu masuk ke dunia maya, saya langsung diserbu berbagai iklan penawaran produk dengan harga-harga miring, yang (mirisnya) pakai embel-embel Kartini, sesuai tebakan saya.


Di kantor pun, orang-orang pada heboh dengan Hari Kartini. Hebohnya seputar cari baju adat buat kostum Hari Kartini, baik untuk diri sendiri maupun si buah hati. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana tadi pagi anak-anak perempuan pergi ke sekolah dengan menggunakan kebaya encim, sarung atau rok batik, dan make-up tebal sementara anak laki-laki dipakaikan peci dan wajahnya digambari kumis. Juga terbayang bagaimana di kantor-kantor, para pekerja berlomba-lomba memakai baju batik dan kebaya seperti mau kondangan.

Kaum feminis pun merasa paling berjaya di bulan April, karena (lagi-lagi) pakai embel-embel Kartini. Segala macam hak perempuan dituntut untuk diberikan, meskipun tidak semuanya masuk di akal. Sekarang ini, apa sih yang tidak dikhususkan bagi perempuan? Transportasi umum sudah ada bagian khusus perempuan, tempat parkir juga... Kadang, saya malah jadi kasihan sama kaum adam yang terlalu sering mengalah sama perempuan.

Nggak ada yang salah sih dengan adanya diskon, lomba kostum adat, ataupun konverensi emansipasi wanita di Hari Kartini. Hanya saja, akhir-akhir ini saya merasa Hari Kartini menjadi too overrated. Kenapa? Karena, yang saya perhatikan, kita cenderung lebih ribet mempersiapkan kostum daripada berpikir 'kenapa sih harus ada Hari Kartini?'

Semua orang pasti tahu bagaimana R.A. Kartini berjuang agar perempuan-perempuan bisa memperoleh pendidikan seperti laki-laki di eranya. Terima kasih kepada Ibu Kartini, sekarang perempuan juga sudah bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, sama seperti laki-laki. Tapi, apakah hanya sebatas itu hasil perjuangan Kartini? Kalau menurut saya, sih, tidak. Di sinilah peran perempuan masa kini diperlukan untuk menyambung tongkat estafet perjuangan Ibu Kartini, yaitu untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Seperti kutipan Dian Sastrowardoyo berikut,


"Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas."

Maka dari itu, sebelum bersolek diri dengan kostum adat kebanggaan, jangan lupa untuk bersolek hati dan pikiran juga ya!

Selamat hari Kartini!

My company held a traditional costume competition, but as I worked in the factory section with the 'no make up' rules, I couldn't make it. Instead, this is my current photo using ulos for the last Good Friday. Isn't it great?


You Might Also Like

0 comments